Mampukah Perempuan Pelaku Usaha Mikro-Kecil Bertahan dalam Badai Covid-19?

Saat ini seluruh dunia dan khususnya di Indonesia sedang menghadapi bencana pandemi virus Corona atau Covid-19. Virus ini berdampak serius terhadap berbagai segi kehidupan, termasuk aktivitas perekonomian. Dari usaha berskala besar hingga usaha skala mikro, kecil dan menengah (UMKM) sangat terpengaruh sekali.

Banyak usaha mikro-kecil yang mengalami penurunan omzet penjualan, bahkan ada yang sama sekali tidak ada penjualan produknya pada masa pandemi Covid-19 ini. Hal ini terjadi dikarenakan perekonomian masyarakat umum sebagai konsumen juga mengalami perubahan dengan banyaknya masyarakat yang di-PHK dan dirumahkan, akibat dari kebijakan perusahaan sebagai dampak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah. Sehingga pola kebutuhan konsumen juga mengalami perubahan dan cenderung untuk membeli kebutuhan pokok maupun kesehatan saja.

Bagaimana perempuan pelaku usaha mikro-kecil bisa bertahan?

Lalu sekarang bagaimana langkah perempuan pelaku UMKM bertahan dalam menghadapi bencana Covid-19 ini? Seperti yang kita ketahui, pelaku usaha mikro-kecil pada umumnya adalah perempuan. Perempuan melakukan usaha yang dapat dilakukan di rumah untuk dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, dengan adanya pandemi Covid-19 ini telah berdampak langsung terhadap usaha yang mereka lakukan, di antaranya: turunnya minat konsumen untuk membeli produk, kesulitan stok bahan baku, distribusi barang yang terganggu, dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil observasi kepada perempuan pelaku usaha mikro-kecil di lapangan, mereka mencoba untuk mempertahankan usaha yang dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

(1) Memanfaatkan media sosial sebagai media utama dalam pemasaran. Hal ini tentunya sejalan dengan himbauan social distancing maupun physical distancing dan di rumah saja. Media sosial dapat menjadi salah satu cara ampuh dalam mempromosikan produk atau usaha yang dimiliki sewaktu pandemi ini.Beberapa perempuan pelaku usaha mikro-kecil mulai membanjiri Instagram, Facebook, dan status Whatsapp dengan berbagai foto produk yang menarik, serta memberikan banyak promo diskon ataupun layanan delivery order agar dapat mempermudah konsumen untuk menjangkau produknya.

(2) Memastikan cashflow terjaga dengan mempertimbangkan pengeluaran yang lebih penting saja (prioritas) dan memperhatikan produk yang diminati konsumen agar dapat pemasukkan yang optimal. Arus kas menjadi unsur paling penting dalam bisnis sehingga perempuan pelaku usaha mampu mengelola keuangan secara baik. Fokus dari arus kas lebih baik untuk membayarkan beban operasional terlebih dahulu. Pada masa pandemi ini, bahan baku cenderung lebih sulit didapatkan dan minat masyarakat untuk membeli produk juga mengalami penurunan. Oleh karena itu, arus keuangan juga harus dijaga dengan baik agar tidak mengalami defisit modal.

(3) Memperhatikan kondisi dan prioritaskan stok bahan baku. Perempuan pelaku usaha mikro-kecil harus selalu melakukan cek status persediaan barang secara berkala dan real time. pemilik usaha tidak hanya menghitung persediaan bahan baku, tetapi juga mengetahui harga jual maupun harga beli rata-rata dan menginformasikan ketersediaan stok saat itu juga. Mengatur prioritas barang stok juga hal yang penting dengan mendahulukan barang yang mudah rusak terlebih dahulu. Stok bahan baku yang disimpan lebih cenderung yang mampu bertahan dalam kurun waktu yang lama. Seperti poin sebelumnya, disaat ini stok bahan baku cenderung memiliki harga yang fluktuatif dan terkadang sulit didapatkan, sehingga perempuan pelaku usaha harus pintar-pintar mendapat update harga bahan baku maupun harga jual agar tidak mengalami kerugian.

(4) Beralih sementara ke usaha yang lebih dibutuhkan dan diminati masyarakat. Peluang yang bisa dilakukan oleh perempuan pelaku usaha untuk tetap dapat bertahan dikala pandemi ini, contohnya: Penjahit pakaian mulai beralih membuat masker kain dan pakaian Alat Pelindung Diri (APD), membuat bak cuci tangan sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pedagang di pasar Kabangan Kota Solo yang biasanya hanya menjual alat rumah tangga dan barang daur ulang, serta beberapa pelaku usaha juga membuat hand sanitizer yang memiliki minat jual yang tinggi. Beberapa perempuan pelaku usaha mikro-kecil dampingan YSKK di Kabupaten Gunungkidul juga melakukan diversifikasi (modifikasi produk), misalnya usaha kripik yang beralih ke pembuatan herbal seperti teh daun kelor maupun racikan herbal yang memiliki manfaat untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Selain itu ada juga pelaku usaha yang beralih ke pembuatan makanan siap saji dan menjadi pedagang ayam yang dapat langsung delivery order ke konsumen yang membutuhkan.

Pemerintah melalui kementerian koperasi dan UKM juga sudah menyiapkan stimulus bagi UMKM agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19, melalui: penghapusan pajak selama 6 bulan untuk pelaku usaha, permudahan akses pinjaman (permodalan) melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat), dan penundaan pembayaran pinjaman bagi pelaku usaha kepada bank. Semoga dengan adanya strategi bertahan yang dilakukan oleh perempuan pelaku usaha dan dukungan dari pemerintah, maka usaha mikro-kecil dapat bertahan menghadapi pandemi Covid-19 ini. (WIND)