FGD di Desa Watusigar: YSKK dan Desa Sepakat Kembangkan Tanaman Holtikultura

Masyarakat desa pada dasarnya hidup syarat dengan kreativitas-kreativitas, berbagai jenis produk telah banyak dihasilkannya. Sayangnya, produk yang dihasilkan selama ini masih

KERJA KAMI

Divisi Pemberdayaan Anak

Meningkatkan kualitas hidup anak melalui layanan pendidikan yang berkeadilan dan berkualitas.

Divisi Pemberdayaan Perempuan

Memperkuat kedaulatan perempuan dalam bidang ekonomi dan politik yang meliputi penguatan peran perempuan dalam politik pembangunan desa dan pengembangan kewirausahaan sosial berbasis perempuan

Divisi Pengelolaan Data & Informasi

Mendokumentasikan dan menyebarluaskan berbagai produk pengetahuan dan pengalaman inovasi perubahan masyarakat.

Quote Hari Ini

img

“One child, one teacher, one book, one pen can change the world.”

Malala Yousafzai -

Latest News

Sea summo mazim ex, ea errem eleifend definitionem vim. Ut nec hinc dolor possim mei ludus efficiendi ei sea summo mazim ex.

Pemilih Cerdas: Pemilih yang Anti Money Politic

Bagaimana menjadi pemilih yang cerdas? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui bahwa ada bebarapa kebiasaan perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya dalam memilih calon pemimpin dimana diantaranya adalah karena ada persamaan ideologi, persamaan etnis, diusung atau didukung oleh partai tertentu, karena pragmatisme, dan program yang dijanjikan.

Pada kenyataannya proses demokrasi di Indonesia dari level yang paling bawah yaitu mulai pemilihan kepala desa sampai dengan pemilihan kepala negara masih diciderai dengan adanya beberapa pelanggaran yang terjadi di lapangan. Hal tersebut terlihat ketika hari-H pemilihan calon kepala desa masih kita temukan serangan fajar dengan membagi-bagikan uang kepada masyarakat untuk memilih calon kepala desa tertentu. Kondisi tersebut biasa disebut dengan istilah Money Politic.

Apakah kondisi tersebut harus selalu kita pelihara atau kita biarkan saja? Tentu saja tidak, agar tidak terjadi hal tersebut maka kita sebagai warga negara harus menjadi pemilih yang cerdas. Salah satu aspek yang bisa menjadikan kita menjadi pemilih yang cerdas adalah kita tidak menerima apapun iming-iming dari calon Kepala Desa untuk memilihnya. Karena dengan kita menerima iming-iming tersebut (uang, sembako, posisi jabatan dll) secara tidak langsung kita sudah terlibat dan mendukung adanya Money Politic. Karena ditinjau dari segi hukum jika masyarakat tidak mengetahui dampak dan bahaya dari money politic, masyarakat akan menjadi korban politik. Hal tersebut seperti yang tertuang dalam undang-undang Pasal 73 ayat 3 Undang-undang No. 3 tahun 1999 yang mana bunyinya adalah sebagai berikut: “Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.” Dari landasan hukum diatas dapat disimpulkan bahwasanya barang siapa menyuap atau menerima suap baik dalam bentuk barang atau materiel maka akan terkena sanksi hukum yaitu akan dikenai tindak pidana hukuman penjara selama tiga tahun.

Kemudian Money Politic juga memberi dampak yang negatif dalam tatanan hidup yang demokratis di maysarakat. Adapun dampak dari adanya money politic salah satunya adalah terciptanya budaya KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme). Hal tersebut dapat dimisalkan ketika hitung-hitungan sederhana secara material, apabila seorang kepala desa terlibat dalam politik uang dan menghabiskan biaya 100 juta dalam rangka memenangkan untuk menjadi kepala desa. Maka uang yang telah dikeluarkan sebesar 100 juta harus kembali maksimal selama periodenya (lima tahun). Sehingga, setiap satu tahun kepala desa yang terpilih harus mampu menabung sebesar 20 juta untuk balik modal.

Dalam rangka untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, maka sering banyak kepala desa yang terpilih melakukan penyelewengan-penyelewengan. Adapun penyelewengan-penyelewengan tersebut diantaranya adalah penyalah gunaan dana ADD, eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran (penambangan pasir, batu, penebangan pohon/ hutan dll), korupsi berbagai proyek pembangunan dll.

Kartini di Era Saat Ini

Jika flashback ke masa kanak-kanak, peringatan Hari Kartini adalah saat dimana kita bisa berunjuk gigi dengan berdandan memakai pakaian kebaya layaknya putri keraton kemudian berlenggak-lenggok di depan guru dan teman-teman sekolah. Saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Kartini. Yang saya tahu beliau adalah tokoh perempuan yang berjuang melawan penindasan terhadap perempuan, itu setelah saya beranjak dewasa dari guru IPS.

Saya pernah membaca sebuah artikel, yang menurut penulisnya sosok Kartini adalah seorang pahlawan yang tidak atau belum melakukan sesuatu hal yang konkrit. Bagi saya tidak ada persoalan siapa yang sebenarnya berhak dikatakan sebagai seorang pahlawan perempuan. Yang lebih utama adalah bagaimana perempuan dapat peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Terkait dengan hal itu, disini saya akan berbagi sepenggal pengalaman yang semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita bersama, khususnya bagi para perempuan yang menggunakan transportasi umum.

Suatu pagi, sekitar pukul 08.00 WIB saya berangkat dari Terminal Tirtonadi – Solo dengan menggunakan bus jurusan Solo-Sragen. Saya mendapatkan tempat duduk di jok/kursi nomor 5 dari depan di barisan tempat duduk yang berseat 3 dengan posisi di sebelah kiri dengan sebagian badan yang tidak mampu diakomodir oleh joknya. Bus melaju dengan skill sopir yang kurang mempedulikan keadaan sekitarnya alias egoistis.

Ketika di tengah perjalanan, terdapat barisan tempat duduk yang berseat 2 yang sudah kosong, dikarenakan penumpang sebelumnya sudah turun. Dengan tujuan agar lebih nyaman dan longgar, saya memilih pindah ke tempat duduk tersebut yang kebetulan berada tepat di sebelah kiri posisi saya duduk semula. Beberapa saat setelah menempati posisi duduk yang lebih longgar, yang bisa mengakomodir seluruh badan, ada seorang laki-laki yang masih muda minta ijin duduk di sebelah saya. Yang namanya di angkutan umum mau nggak mau ya harus berbagi tempat duduk dengan penumpang yang lain. Meskipun saya sendiri tidak nyaman ketika harus duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan saudara. Dengan perasaan yang kurang berkenan, akhirnya saya bergeser ke kanan sedangkan laki-laki tadi duduk di sebelah kiri saya. Sepanjang perjalanan saya tidak mencoba menyapa ataupun melakukan pembicaraan dengan laki-laki tersebut.

Di sela-sela bagian punggung sebelah kiri, saya merasa bersentuhan dengan anggota badan laki-laki tersebut. Saya pun bergeser sedikit ke kanan untuk meminimalisir sentuhan. Dalam benak saya, ah paling nggak sengaja kesenggol. Ehh meskipun sudah bergeser kok masih bersentuhan lagi. Saya jadi negative thinking, sudah bergeser kok masih kesenggol terus pasti ada sesuatu yang kurang beres, pasti orang di sebelah ini punya niat buruk. Saya tahan-tahan sekitar satu sampai dua menit, karena gemas tanpa pikir panjang lagi saya menoleh ke sebelah kiri. Wahhh langsung saya dibikin geram karena melihat ternyata 3 jari tangan kiri laki-laki di sebelah saya, tepatnya jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis, sengaja menyentuh bagian badan sebelah kiri di bawah ketiak.

Saking geramnya, reflek meluncur kata-kata makian dan tidak berhenti disitu dengan kepalan tangan saya pukul bahu kanannya sebanyak 2 kali. Ingin rasanya memukul wajahnya, tapi laki-laki tersebut keburu berdiri. Mungkin sudah menjadi tipikal kebanyakan orang, tidak mau mengakui hal yang saya tuduhkan kepadanya, laki-laki tersebut malah marah-marah balik. Mengatakan bahwa sedang enak-enak tidur tiba-tiba dipukul. Tidak terima dengan pembelaannya, langsung saya jawab dengan kata-kata kasar, “tidur matane, tanganne nggratil”.

Setelah kejadian tersebut, selama sisa perjalanan di dalam bus saya memilih berdiri dan melontarkan kata-kata membalas racauan laki-laki tadi. Spontan saya minta sama sopir untuk menghentikan bus di Kantor Polisi terdekat. Ada seorang perempuan yang mungkin kasihan, menawari tempat duduk. Karena masih merasa jengkel dengan halus tawaran tersebut saya tolak. Tapi ironisnya, ada seorang perempuan yang lain yang nyeloteh, “wis mbak ra sah rame, wong wedok ning bis kie biasa disenggol-senggol (sudah mbak nggak usah rame, perempuan di dalam bisa itu biasa disenggol-senggol)”. Uhh, semakin geram rasanya mendengar celotehan seperti itu, ditambah lagi yang mengatakan adalah seorang perempuan juga. Dimana rasa keperempuanannya!?

Sampai di traffic light Palur, terpaksa saya harus mengulangi permintaan kepada sopir untuk menghentikan bus, karena permintaan sebelumnya seperti tidak digubris. Dengan sedikit ancaman, jika si sopir tidak mau memberhentikan busnya maka akan ikut dilaporkan ke Polisi, akhirnya bus diberhentikan di depan Polsek Palur.

Dengan perasaan jengkel saya langsung turun dan berjalan kaki menuju kantor Polsek. Di depan kantor ada seorang petugas yang kebetulan sedang tidak ikut apel, kepada petugas tersebutlah saya meminta tolong bahwa ada pelecehan seksual di dalam bus. Kemudian bersama beberapa petugas, saya mendatangi bus yang sudah berhenti. Sempat si sopir dan kondektur bus menyampaikan keberatannya kalau bus berhenti, kasihan penumpang yang lain katanya. Tanpa mempedulikan si sopir dan kondektur, saya langsung mendekat dan menunjuk laki-laki yang sebelumnya duduk bersebelahan dengan saya, yang pada saat itu mengenakan kaos putih biru adalah pelakunya.

Sigap, Pak Polisi langsung menggiring laki-laki tersebut ke kantor. Duduk di bagian depan kantor, saya menceritakan proses kejadian di dalam bus yang saya alami. Interogasi dilanjutkan di ruangan yang terpisah. Selama proses interogasi saya menceritakan kembali apa yang saya alami di dalam bus tadi. Untuk keperluan administrasi pelaporan kasus, saya menyerahkan identitas diri kepada polisi yang menginterogasi. Setelah interogasi secara terpisah dirasa cukup, saya dan laki-laki tersebut diinterogasi lagi dalam satu ruangan. Laki-laki tersebut masih keukeuh bahwa dia tidak melakukan pelecehan, sontak Kapolsek memarahinya.

Kapolsek memberikan penjelasan bahwa kalau kasus ini akan diselesaikan secara kekeluargaan pihak kepolisian bersedia menjadi mediator, dan kalau mau diselesaikan secara proses hukum, kasus ini akan dibawa ke Polres bagian PPA. Membutuhkan waktu berpikir untuk kemudian saya memutuskan berdamai tetapi dengan syarat, tentu saja. Yaitu laki-laki tersebut saya minta untuk meminta maaf dengan lantang dan mengucapkan, “saya berjanji tidak akan melakukan pelecehan seksual lagi” sebanyak 3 kali. Namun laki-laki tersebut menolak, Kapolsek tidak tinggal diam kemudian memarahi laki-laki tersebut sambil mengancam, “kowe kuwi bejo, mbake gelem damai. Yen kowe isih kaya ngono malah tak gawa ke Polres piye!? (kamu itu beruntung, mbaknya mau damai. Kalau kamu masih seperti itu – menolak melakukan syarat yang diajukan – akan saya bawa ke Polres, gimana!?). Baru kemudian laki-laki tersebut mau menuruti syarat yang saya ajukan.

Sembari si laki-laki menyelesaikan keperluan administrasi, saya melontarkan kata-kata yang tidak sedap kepadanya, “Piye rasane ndemok susune wong wedok, aku takon mbokmu wedok po ra!? Yen susune mbokmu didemok wong lanang liya piye? bojomu yen susune didemok wong liya piye? Mulakna dadi wong ki yen arep tumindak mikir dhisik” (Gimana rasanya memegang (maaf) payudaranya perempuan, ibumu apa bukan perempuan!? Bagaimana kalau (maaf) payudara ibumu dipegang lelaki? Atau (maaf) payudara istrimu dipegang orang lain, gimana!? Makanya kalau mau melakukan sesuatu itu dipikir dulu).

Ehh lagi-lagi si laki-laki ini bikin geram, seperti tidak menunjukkan perasaan bersalah, dalam proses menunggu penyelesaian administrasi kasus dia malah sibuk smsan. Tak selang berapa lama ada seorang laki-laki mengenakan pakaian sipil menghampiri “pelaku pelecehan seksual”, yang menurut tebakan saya adalah teman si pelaku. Dan ternyata benar, sontak saya nyerocos, “wong salah kok ra gelem ngaku, pa yen nyeluk polisi ora sido salah pa piye!? Sisan wae kowe kenal Pak Kapolri po ra? Celuken sisan! Salah yo tetep salah!” (orang salah kok nggak mau mengakuinya, apa kalau memanggil polisi nggak salah? Sekalian kalau kenal Pak Kapolri, dipanggil sekalian! Salah ya tetap salah).

Setelah menyelesaikan administrasi, Pak Kapolsek menyuruh laki-laki tersebut untuk menjabat tangan saya, namun saya menolaknya. Sebelum meninggalkan kantor polisi, sebagai ungkapan terima kasih saya menjabat tangan Pak Kapolsek dan rekan-rekannya. Sambil menunggu pesanan taksi datang, polisi teman “si pelaku” tadi menemani saya dan mengatakan, “Maaf ya mbak, marai ngisin-ngisinke wae, wau pun kula sanjangi kathah-kathah kok.” (Maaf ya mbak, membuat malu saja. Tadi sudah saya kasih tahu banyak kok). Taksi datang, saya pulang dan melanjutkan perjalanan.
Pembelajaran yang bisa saya ambil bahwa kaum perempuan sendiri pun belum atau tidak berpihak ketika ada sesama perempuan yang mengalami pelecehan seksual (dalam kasus ini). Lalu pertanyaannya, siapa lagi yang akan memperjuangkan hak-hak perempuan kalau bukan kita, kaum perempuan??? Kemana Kartini di masa sekarang???

Antara POSYANDU – BKB – PAUD

Pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai bagian dari upaya pengembangan secara holistic, menjadi suatu keniscayaan apabila kita menginginkan generasi yang berkualitas. Kebutuhan tumbuh kembang anak yan mencakup gizi, kesehatan, pengasuhan dan pendidikan harus dipahami sebagai satu yang utuh dan terpadu. Program ini diyakini dapat meningkatkan kinerja pendidikan dan kesehatan yang ditujukan oleh adanya peningkatan prestasi belajar anak, penurunan angka mengulang kelas dan putus sekolah, serta peningkatan status gizi dan kesehatan anak. Program Pendidikan Anak Usia Dini secara holistic diyakini juga dapat mempersiapkan anak menjadi lebih mandiri, adaptif, dan bermoral sehingga membentuk pribadi yang handal.

Pada saat ini pemerintah telah banyak memberikan perhatian terhadap berbagai usaha dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, penerapan pola asuh yang ideal dan pemeliharaan kesehatan serta pemberian asupan gizi yang seimbang. Harapannya proses tumbuh kembang anak dapat berjalan optimal sehingga tercipta sumber daya manusia masa depan yang sehat, cerdas, trampil, berkepribadian luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bentuk perhatian pemerintah ini tercermin dengan digalakkannya kembali kegiatan BKB dan Posyandu serta dikembangkannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan kegiatan seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS). Perhatian pemerintah ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat seiring dengan tumbuhnya kesadaran baru bahwa proses tumbuh kembang anak akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya.

Program Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai salah satu program pemberdayaan keluarga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak dilakukan melalui pengasuhan yang baik dan benar, dengan menggunakan media interaksi antara orangtua dan anak yang melibatkan orangtua secara aktif dalam mengasuh anak.

Sayang, kegiatan BKB, Posyandu dan PAUD selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri sehingga ada kesan di masyarakat bahwa ketiga kegiatan tersebut berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan akhir yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Sementara apabila didalami lebih jauh, kegiatan tersebut sebenarnya dapat dipadukan/disinergikan karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, terutama bila hal ini dikaitkan dengan tujuan pendidikan untuk menjadikan “Anak Indonesia Sehat, Cerdas, Bercita-cita Tinggi dan Berakhlak Mulia” yang berdimensi holistic. Sebab kenyataan menunjukan, mereka yang sukses di masyarakat tidak selalu hanya pintar secara intelektual, tetapi juga yang baik kecerdasan social dan motoriknya.

Selama ini BKB dikenal sebagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Sementara Posyandu adalah kegiatan dalam rangka pelayanan kesehatan dan pemantauan status gizi bagi anak dengan harapan anak dapat tumbuh sehat dan ceria. Pelayanan kesehatan ini juga berlaku untuk masyarakat umum termasuk lansia. Sedangkan PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa sasaran BKB adalah orangtua (ayah/ibu) dan anggota keluarga lainnya, Posyandu orangtua dan anak termasuk di dalamnya masyarakat umum dan lansia, sedangkan PAUD sasarannya adalah anak.

Mengingat sangat strategisnya peran program Posyandu – BKB – PAUD dalam pembinaan tumbuh kembang anak, maka program ini perlu mendapatkan perhatian bagi para pengambil kebijakan di daerah, sehingga program ini tetap menjadi prioritas pembangunan SDM. Keterpaduan program Posyandu – BKB – PAUD sebagai upaya untuk meningkatkan sinergi program dalam memenuhi kebutuhan hak-hak anak, sehingga keterpaduan merupakan pembinaan yang bersifat holistic dan komprehensif yang meliputi aspek kesehatan, gizi, psiko-sosial, serta moral spiritual dengan menerapkan pengasuhan yang tepat sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak[.]