Film dan Perubahan Wacana Perempuan

23

Agustus 2013

Koperasi Wanita Karya Perempuan Mandiri menggelar “Syawalan”dengan nonton film bareng di Dusun Randusari, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul . Film pertama yang diputar adalah film dokumenter yang berjudul Koperasi Perempuan untuk Perbaikan Kualitas Hidup Masyarakat. Film yang berdurasi 4 menit ini menceritakan pengalaman perempuan dalam membentuk dan mendirikan koperasi di Poogalampa, Kec. Batauga, Kab. Buton, Sulawesi Tenggara. Film kedua yang diputar berdurasi 13 menit  berjudul Perempuan Pahlawan Perubahan (Unum Production – CIS Timor, 2011) merupakan kumpulan cerita dari 3 sosok perempuan yang berjuang untuk melakukan perubahan di desanya.

Kedua film ini menunjukkan kepada publik mengenai eksistensi perempuan, yang dulu dianggap sebagai kaum lemah dan termarginalkan. Perempuan-perempuan dalam cerita di atas telah melakukan perubahan baik perubahan dalam diri mereka sendiri, perubahan dalam keluarga dan perubahan sosial; Sipora Duli Hubi telah mengubah tanah tandus menjadi tanah produktif untuk pertanian sehingga hasil pertanian mereka mampu mencukupi kebutuhan sayur segar untuk keluarga dan masyarakat sekitar; Monika Bonbalan (anggota komite air Desa Oefafi) memperjuangkan untuk akses air bersih bagi warga desanya dan sudah mewujudkan penampungan air yang aksesnya jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

Pemutaran film ini hanya akan menjadi hiburan jika tidak bisa mengambil keylearning dari pesan yang disampaikan dari film ini. Harapannya adalah mampu memberikan motivasi dan inspirasi bagi perubahan untuk melakukan perubahan positif di komunitas masing-masing untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Kedua film ini memberikan kesan yang mendalam sekaligus menggelitik pemikiran bagi para anggota koperasi. Inilah kesan yang terungkap dari anggota koperasi perempuan:

 “…sebagai perempuan kita harus ikut terlibat dalam pengambilan kebijakan yang didominasi laki-laki dan sebagai perempuan, kita harus mandiri tidak tergantung pada laki-laki” (Kemi, 40thn).

“dari film yang telah diputar, menjadikan diri saya untuk semangat dan bangkit dari tempat yang selama ini saya tempati, karena apa? Karena dengan kondisi yang jauh lebih buruk di wilayah Gunungkidul, mereka mampu bangkit, kenapa kita tidak? Pasti kita juga bisa berdaya dan mampu seperti mereka…” (Muji, 45thn).

“…dari film yang saya lihat, saya mengambil hikmahnya bahwa kita sebagai perempuan tidak hidup sendirian maka dari itu kita harus bisa berguna bagi diri ktia sendiri, lingkungan dan masyarakat…” (Nuryani, 45thn).

Yuliana (pendamping YSKK)  mengungkapkan kegiatan nonton film bareng ini adalah media pembelajaran alternatif bagi anggota Koperasi Wanita Karya Perempuan Mandiri  yang cukup efektif. “Film, yang menggabungkan audio dan visual, mampu memberikan pembelajaran bagi para anggota koperasi ini, karena mereka mampu melihat secara ‘langsung’ kondisi wilayah dan perjuangan tokoh pada film tersebut”, ungkapnya. Hal ini berbeda ketika mereka hanya diberi materi dalam bentuk buku atau tulisan, mengingat minat baca di masyarakat yang rendah.

Dia juga menambahkan, “film ini telah menggenjot motivasi para perempuan anggota koperasi untuk semakin menggeliatkan perekonomian desa melalui koperasi, salah satunya muncul ide untuk ‘meningkatkan layanan koperasi’ sebagai penyedia bahan baku untuk kebutuhan produksi anggota dan yang akan mengelola adalah kelompok-kelompok perempuan yang berada di bawah naungan Koperasi Wanita Karya Perempuan Mandiri.” Ide ini tentu saja masih perlu untuk dituangkan dalam rencana yang matang dan implementatif bagi mereka. Dan ini menjadi salah satu kewajiban bagi pendamping masyarakat untuk memfasilitasi semakin terwujudnya kemandirian para perempuan di sektor ekonomi.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *