Membuka Jalan Keterwakilan Perempuan Melalui Talkshow Radio

10

Agustus 2014

Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) bersama dengan perempuan kader desa alumni SKP (Sekolah Kepemimpinan Perempuan melakukan kampanye penyadaran pendidikan politik bagi perempuan melalui talkshow radio. Bekerjasama dengan Radio Komunitas Hanacaraka 107,7 FM, Wonosari, Gunungkidul, talkshow dilaksanakan pada Jum’at, 8 Agustus 2014 dengan menghadirkan 3 narasumber.

 

Ketiga narasumber tersebut adalah Sumarsih, yang merupakan perwakilan perempuan penyelenggara pemerintahan desa, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPKB Kabupaten Gunungkidul, Sumiyati serta Koordinator Program Kepemimpinan Perempuan YSKK, Lusiningtias.

 

Dalam talkshow yang dipandu oleh Koordinator Jaringan Kerja Perempuan Gunungkidul (JKPGK), Panikem, tersebut, Lusiningtias mengungkapkan temuan-temuan hasil riset yang dilakukan YSKK tentang Peluang dan Tantangan Perempuan dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) dan Pembentukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) pada periode penyelenggaraan 2012 dan 2014 silam.

 

“Temuan-temuan dalam riset YSKK menyimpulkan satu kondisi dimana banyak ekses bagi perempuan yang tercipta dalam kedua proses politik desa. Ekses tersebut diantaranya tingginya biaya politik yang harus ditanggung oleh calon kepala desa (cakades), maraknya praktek politik uang. Kemudian minimnya sumber daya manusia perempuan tentang tata kelola pemerintahan desa, proses perumusan dan penentuan kebijakan strategis pilkades dan pembentukan BPD yang kurang Transparan, Akuntabel dan Partisipatif, serta masih kentalnya budaya patriarki masyarakat desa,” terang Lusi.

 

Semua ekses yang dialami oleh perempuan desa tersebut diakui oleh Sumarsih, bahwa “Banyak perempuan yang pintar dan berpendidikan di desa namun sulit berkiprah karena masyarakat masih memandang perempuan dengan ‘sebelah mata’,” ungkap Asih.

 

Memandang masalah ini, Sumiyati, menegaskan bahwa para tokoh perempuan desa sebenarnya memiliki modal sosial yang besar untuk ikut dalam kontestasi politik di desa, karena para tokoh perempuan ini sangat dikenal masyarakat melalui berbagai kiprahnya dalam memajukan kesejahteraan umum. Namun peluang itu belum bisa dioptimalkan karena faktor budaya patriarki dan regulasi serta kebijakan yang belum memadai.

 

Sumiyati juga mengungkapkan bahwa sebenarnya banyak persoalan-persoalan perempuan yang dapat diselesaikan atau diminimalisir resikonya. “Resiko persoalan perempuan dapat diminimalisir salah satunya dengan penguatan keterwakilan perempuan dalam jabatan publik di desa serta dalam forum-forum pengambilan kebijakan strategis,” ungkap Sumiyati.

 

Persoalan yang dimaksudkan adalah tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai dimensi, permasalahan kesehatan reproduksi, sampai pada human trafficking.

 

Hal senada juga diutarakan Sumarsih, yang juga menjabat sebagai Kepala Padukuhan di Desa Tepus, “Keterwakilan perempuan sangat penting dalam mendongkrak kesejahteraan perempuan desa dan memajukan pendidikan dan ketrampilan perempuan desa,” ujarnya.

 

Lebih lanjut Lusiningtias menerangkan, riset yang telah dilakukan YSKK merumuskan rekomendasi untuk menjawab tantangan atau ekses-ekses yang dihadapi para perempuan. “Rekomendasi yang tersusun mendasarkan temuan-temuan riset diantaranya merancang regulasi dan kebijakan daerah dan desa yang memiliki kerangka affirmative action, mempersiapkan sumber daya manusia para kader perempuan desa dalam jangka panjang untuk paham dan trampil tentang tata kelola pemerintahan desa, memberikan pendidikan kepada masyarakat luas (khususnya para laki-laki) tentang keadilan dan kesetaraan gender,” terangnya.

 

Selain itu, Lusi menegaskan, “Regulasi dan kebijakan haruslah dirancang untuk menjawab persoalan tingginya biaya politik yang harus ditanggung oleh cakades, maraknya praktek politik uang, serta penyelenggaraan pilkades dan pembentukan BPD yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance,” tegas Lusi. (riyadh/lusy/amy)

 

 


Tags: ,,,,
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *